bappelitbangda@gmail.com (0717) 439 336

Evaluasi Sosio-Ekonomi dan Pemantauan Reklamasi Bersama BGR Jerman di Desa Lokasi PCE

    

Bukit Layang – Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Federal Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) Pemerintah Jerman melaksanakan evaluasi sosio-ekonomi dan pemantauan lingkungan di tapak percontohan reklamasi bekas lahan tambang pada Inisiatif Pertukaran Kerjasama Percontohan (PCE) yang dilaksanakan pada 2017 – 2019. Inisiatif ini selain melaksanakan reklamasi pada lahan seluas sekitar 17 ha di tapak Air Kundur 3 di Dusun 7 Bukit Layang, juga menghasilkan Buku Pegangan Praktik-Praktik Terbaik Reklamasi Bekas Tambang Darat Timah Alluvial di Indonesia.

Sebagai tindak lanjut dari inisiatif tersebut, BGR terus melakukan pemantauan terhadap lahan pilot reklamasi tersebut, yang telah diserahkan kembali ke PT Timah selaku pemegang Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah tersebut. Pemantauan meliputi pemantauan terhadap pertumbuhan tanaman, pengecekan kesuburan tanah, dan pemantauan tutupan lahan yang dilakukan dengan drone.

Pemantauan dilaksanakan setiap tahun selama sekitar 10 tahun yang dimulai pada tahun 2022. Untuk pemantauan ketiga yang dilaksanakan pada tahun ini, dilaksanakan pula evaluasi sosial ekonomi Desa Bukit Layang sebagai desa yang menjadi lokasi reklamasi dalam inisiatif tersebut.

Pada hari Senin, 2 Desember 2024, Dr. Andreas Moller, selaku soil expert BGR bersama peneliti lingkungan dan peneliti tambang Bidang Penelitian dan Pengembangan, di damping penerjemah Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bertemu dengan pemerintah desa Bukit Layang, Ketua BPD, serta Bumdes setempat. Selain memotret perkembangan desa saat ini, tim ini juga menemukan bahwa masih banyak hal-hal yang krusial dalam penanganan kawasan paska tambang yang terkait dengan status lahan reklamasi, pemanfaatan lahan reklamasi, pemberdayaan masyarakat lokal, maupun aspek-aspek regulasi yang menjadi titik berat pemenuhan kewajiban perusahaan, yang ternyata menyebabkan kegiatan paska tambang menjadi belum optimal. 

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pemantauan tapak pilot reklamasi selama dua hari, yang melakukan pengukuran pertumbuhan tanaman dan kondisi tanah, yang didampingi oleh Divisi HSE and Sustainability PT Timah. Pemantauan di lapangan tersebut juga menemukan bahwa warga memiliki aspirasi untuk dapat mengelola lahan pilot reklamasi tersebut untuk pertanian, serta potensi masih dilakukannya penambangan kembali oleh warga dari luar desa.

Sebelum melakukan evaluasi dan pemantauan di Bangka, Dr. Andreas Moller mempresentasikan penelitian bersama atas penggunaan biochar dari kerjasama percontohan tersebut dan hasil pemantauan pertama pada pertemuan Mine Closure 2024 di Perth, Australia, yang juga dapat diakses pada tautan berikut: https://doi.org/10.36487/ACG_repo/2415_34 .
Sementara itu, buku pegangan yang menjadi salah satu keluaran dari PCE juga dapat diakses pada tautan berikut: https://www.bgr.bund.de/EN/Themen/Min_rohstoffe/Projekte/Bergwirtschaft-Nachhaltigkeit_abgeschlossen_en/nachhaltigkeit_zinnbergbau_indonesien_en.html?nn=1560242 .


Socio-Economic Evaluation and Monitoring with BGR in PCE Site

Bukit Layang – Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province and the German Federal Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) conducted socio-economic and environmental monitoring in the village of pilot reclamation site in the Pilot Cooperation Exchange initiative conducted from 2017 – 2019. The initiative conducted a pilot reclamation project on 17 ha ex-tin mining area in Air Kundur 3 of Dusun 3 (sub-village 3) in Bukit Layang Village, as well as a Handbook for Best Available Practice in Onshore Alluvial Tin Mine Reclamation in Indonesia.

As the follow-up of the initiative, BGR continues to monitor the pilot reclamation site, which has been handed over to PT Timah as the concession (IUP) holder in that area. The monitoring observes the plant growth, soil condition, and land cover by drone mapping.

The monitoring is conducted annually for around ten years, which started in 2022. The third monitoring conducted this year also includes a socio-economic evaluation of Bukit Layang Village as the area of the pilot site in the initiative.

On Monday, December, 2nd 2024, Dr. Andreas Moller, a soil expert from BGR, together with environment and mining researchers and interpreter of the Research and Development Division in Bappeda met Bukit Layang Village administration, speaker of BPD (village house of representative), and the local BUMDES (village-owned company). Besides catching the village development, the team also found that there are crucial questions in handling the ex-tin mining area for post-mining. Those include the land status of the reclamation site, reclamation site utilization, local community empowerment, and the regulation aspects that become the concerns of the mining company that turn out to challenge the optimum success of post-mining activities.

The evaluation was followed by a two-day monitoring of the pilot reclamation site, conducting tree measurement and soil checking and sampling, together with the HSE and Sustainability Division of PT Timah. The survey also found that the locals wish to be able to manage the pilot reclamation site for agriculture, and the potential for remining activities by people from other villages.

Before conducting the evaluation and monitoring activities in Bangka, Dr. Andreas Moller presented the joint research on biochar from this cooperation initiative and the first monitoring at the 2024 Mine Closure in Perth, Australia. The paper is available online on this link: https://doi.org/10.36487/ACG_repo/2415_34 , while the handbook is available on: https://www.bgr.bund.de/EN/Themen/Min_rohstoffe/Projekte/Bergwirtschaft-Nachhaltigkeit_abgeschlossen_en/nachhaltigkeit_zinnbergbau_indonesien_en.html?nn=1560242 .