bappelitbangda@gmail.com (0717) 439 336

Si Centing (Siap Cegah Stunting)


Indonesia tergolong negara maju. Kategori untuk negara maju adalah rendahnya angka stunting, rendahnya angka kemiskinan, dan rendahnya angka pengangguran. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih bermasalah dengan angka stunting yang tinggi. Saat ini, fenomena pertumbuhan anak yang lambat karena kurang gizi masih terjadi di 69 desa dengan jumlah balita stunting mencapai 6.000 anak. Angka stunting tertinggi ditemukan di salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Barat dengan jumlah wilayah mencapai 25 desa. Sebanyak 44 desa lainnya tersebar di 5 Kabupaten dan 1 Kota.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya. Bahkan, stunting dan malnutrisi diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya. Prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting. Masalah gizi lain terkait dengan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil (48,9%), Berat Bayi Lahir Rendah atau BBLR (6,2%), balita kurus atau wasting (10,2%) dan anemia pada balita.

Untuk menekan angka stunting, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan gerakan perangi stunting melalui program SI CENTING (Siap Cegah Stunting).

SI CENTING merupakan design yang dibuat Melati Erzaldi sebagai Istri Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman. Bahkan untuk mendukung hal ini, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membuat program penanggulangan stunting dengan Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai leading sektor. Gerakan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian Gubernur Erzaldi Rosman atas permasalahan stunting. Bahkan Gubernur Erzaldi Rosman menganggarkan, memimpin, dan merancang program ini dengan cermat sebab menurutnya masa depan Bangka Belitung ada pada generasi anak-anak yang sehat. Selain itu, program ini merupakan prioritas pemerintah pusat sehingga Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung perlu untuk memprioritaskan hal ini.

Untuk percepatan penurunan angka stunting, Bangka Belitung mengedepankan perbaikan pada 3 hal :

  1. Gizi, melalui dukungan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
  2. Pola Asuh, pemberian bimbingan atas prilaku anak melalui PAUD, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, TP-PKK hingga melalui BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
  3. Lingkungan, seperti air bersih, jamban, dan sanitasi diprogramkan melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Melalui program Si Centing ini, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkerjasama dengan TP PKK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung salah satunya dengan membuat program pemberian makanan sehat dan bergizi sekaligus mengajarkan kepada orang tua tentang potensi makanan bergizi di daerah mereka tinggal. Stunting bukan hanya tentang makanan bergizi saja, tetapi faktor penyumbang angka stunting salah satunya adalah karena adanya pernikahan anak usia dini. Perencanaan kehamilan yang baik di mulai dari pernikahan yang sah sehingga kedua belah pihak siap menjadi orang tua dan memperhatikan asupan gizi dari masa sebelum kehamilan. penanganan stunting perlu secara menyeluruh atau lintas sektoral dengan melakukan intervensi gizi terpadu yang mencakup intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive. Harapannya agar gerakan ini bisa mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten dan Kota serta masyarakat, sehingga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bisa terbebas dari stunting.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menargetkan penurunan angka stunting hingga 2024 diangka 14%. Sementara, target angka penurunan di RPJMN adalah 19% dan RPJMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di angka 23%. Dengan demikian, Bangka Belitung berhasil mencapai angka di bawah rata-rata nasional. Hingga tahun 2020 terdata angka nasional sebesar 27,6% sedangkan Bangka Belitung lebih rendah karena berada di angka 23%.

 

Tujuan Inovasi Daerah

  1. Mendorong masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting
  2. Melakuan pencegahan dan penanggulangan stunting dengan melibatkan kader pemberdayaan kesejahteraan keluarga.
  3. Menggali, mengkaji dan melaksanakan potensi sumber daya makanan lokal yang ada di desa dan kelurahan untuk peningkatan gizi masyarakat.
  4. Membangun dan menjalin kerjasama, koordinasi dan hubungan kerja yang baik dengan semua unsur masyarakat dalam pelaksanaan gerakan Sicenting

Manfaat Yang Diperoleh

  1. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi bahan makanan sumber lokal untuk diberikan dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
  2. Mempercepat pemberantasan kasus stunting dan gizi buruk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia kedepannya.
  3. Mengenalkan kepada masyarakat gerakan pencegahan dan penanggulangan stunting
  4. Meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan serta meningkatkan gizi.
  5. Meningkatnya pemahaaman para kader pemberdayaan kesejahteraan keluarga dalam pencegahan dan penanggulangan
    stunting.

Hasil Inovasi

Menurunnya jumlah angka stunting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.